Search

Sekolah Desa di NTB Terapkan Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal, Raih Penghargaan Nasional 2025

Sebuah sekolah dasar di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berhasil menarik perhatian nasional setelah meraih Penghargaan Pendidikan Inovatif 2025 berkat penerapan kurikulum berbasis kearifan lokal yang dinilai efektif meningkatkan minat belajar dan karakter siswa.

Sekolah tersebut, SDN Rinjani Mandiri, mulai mengembangkan kurikulum ini sejak awal 2024 sebagai respons terhadap tantangan pendidikan di desa yang sering mengalami keterbatasan fasilitas, tenaga pengajar, hingga akses teknologi. Kepala sekolah, Nurhayati, menjelaskan bahwa pendekatan baru tersebut memadukan kurikulum nasional dengan budaya lokal, praktik pertanian tradisional, dan pengenalan lingkungan sekitar.

“Kami ingin anak-anak belajar sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Mereka mempelajari matematika lewat pengukuran sawah, belajar sains lewat pengamatan tanaman, hingga pelajaran bahasa melalui cerita rakyat Sasak,” ujarnya. Pendekatan ini terbukti meningkatkan partisipasi siswa yang sebelumnya sering absen karena membantu orang tua di ladang.

Salah satu kegiatan unggulan adalah program “Satu Siswa Satu Tanaman”, di mana setiap siswa bertanggung jawab merawat tanaman pangan atau herbal. Hasil panen digunakan untuk kegiatan sekolah atau dibawa pulang sebagai bagian dari pembelajaran ekonomi mikro. Program ini mendapat dukungan dari kelompok tani setempat yang ikut memberikan edukasi tentang teknik bercocok tanam yang ramah lingkungan.

Selain itu, siswa juga diajak mempelajari seni musik tradisional gendang beleq dan tarian daerah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pelestarian budaya. Para guru bekerja sama dengan seniman desa untuk memberikan pelatihan rutin setiap minggu. Menurut Nurhayati, kegiatan seni ini membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa dan memperkuat kebanggaan terhadap identitas lokal.

Keberhasilan SDN Rinjani Mandiri juga didukung oleh penggunaan teknologi sederhana. Meski fasilitas digital terbatas, sekolah memanfaatkan tablet bekas yang disumbangkan komunitas untuk membuat perpustakaan digital mini. Guru-guru merekam materi pembelajaran dalam bentuk video pendek sehingga dapat diputar ulang oleh siswa yang kesulitan memahami pelajaran tertentu.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menilai model pendidikan berbasis kearifan lokal ini sangat relevan bagi daerah pedesaan. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar menegaskan bahwa inovasi sekolah ini menjadi contoh bahwa pendidikan berkualitas tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. “Yang paling penting adalah kreativitas guru dan keterlibatan komunitas. Ini adalah bentuk nyata Merdeka Belajar di tingkat desa,” ujarnya saat acara penghargaan di Jakarta.

Pengamat pendidikan dari Universitas Mataram, Prof. Mursalim, menilai bahwa pendekatan ini dapat memperkuat literasi kontekstual dan keterampilan hidup siswa. “Anak-anak belajar hal yang mereka jumpai setiap hari. Ini meningkatkan daya serap pengetahuan sekaligus membentuk karakter yang lebih kuat,” jelasnya.

Dengan prestasi ini, pemerintah daerah NTB merencanakan replikasi model kurikulum kearifan lokal ke 30 sekolah lain pada 2026. SDN Rinjani Mandiri diharapkan menjadi pusat pelatihan bagi guru-guru dari desa lain yang ingin menerapkan model serupa.

Bagikan:

Rekomendasi untuk Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INFO!

WEBSITE INI BELUM DIBAYAR!